KOP 3

on . Hits: 166

Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Sulawesi Tenggara ( PTA Sultra ), Dr. Mame Sadafal, M.H menghadiri Kegiatan Deklarasi Tamalaki Wonua Mekongga yang dirangkaikan dengan prosesi adat Mosehe Wonua (Pensucian Negeri) di Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara ( Sultra ) yang diadakan di lapangan Kapita Konggoasa Kabupaten Kolaka, pada hari kamis, (19/11/2020).Kegiatan tersebut menerapkan protokol kesehatan sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19.

DSC_5225.JPGDSC_5213.JPG

Kegiatan tersebut rencananya akan dihadiri langsung oleh Gubernur Sulawesi Tenggara tetapi karena ada kegiatan mendadak dari pusat, maka Sekretaris Propinsi Sulawesi Tenggara diamanahkan untuk mewakili. Turut hadir pada kegiatan tersebut Bokeo ( Raja ) Mekongga Drs. H. Khaerun Dachlan, MM, Kabag Kesra Pemerintah Propinsi Sultra H. Abu Baeda, S,Ag.,M,Pd, Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Sultra   Dr. H. Mame Sadafal, M.H, Sekretaris Jenderal DPP Lembaga Adat Tolaki Drs. Bisman Saranani, Bupati Kolaka H. Ahmad Safei, S.H.,M.H, Ketua DPRD Kolaka H. Syaifullah Halik,Forum Komunikasi Pimpinan Daerah ( Forkopimda ) Kab.Kolaka, Dewan Adat Mekongga, Majelis Adat Mokole Laiwoi, pimpinan-pimpinan OKP se-Kab.Kolaka, ormas-ormas Tolaki se-Sulawesi Tenggara.

3.jpg

Acara dihelat pada pukul 09.15 WITA, mengawali kegiatan tersebut digelar tradisi Mombesara atau dalam bahasa Tolaki bermakna meletakan adat atau menyuguhkan adat sebagai bentuk penghargaan kepada Tamu yang hadir. Kemudian acara dilanjutkan dengan tari lulo sangia yang di peragakan oleh tujuh Waipode (Gadis) dari sanggar seni Sanggoleo, Tarian tersebut mengisahkan awal mula tari lulo sangia, dimulai pada abad XVI era pemerintahan Raja atau Sangia Teporambe. Sangia Teporambe dalam menjalankan pemerintahan kerajaan Mekongga sempat mengalami sakit yang cukup lama dan tak seorangpun yang dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya itu. Suatu ketika seorang tabib kala itu bermimpi, bahwasanya Sangia Teporambe dapat disembuhkan jika dimandikan air laut campur air tawar dan beberapa ramuan yang diambil dari laut dan darat.

4.jpg 

Dan diceritakan, sang tabib kemudian menceritakan kepada seorang yang disebut Kapala Kambo (Petua Kampung) yang mendiami wilayah Puu’ ehu bernama Wasasi Wasabengga’ali, dia kemudian melanjutkan pesan tabib itu kepada kerabat raja Teporambe. Atas petunjuk tersebut, dan Raja pun siap dimandikan sebagai rasa syukur, dan rakyat pun mengekspresikan kegembiraanya itu dengan dilakukanya tarian lulo sangia yang dipentaskan selama 7 hari berturut turut, setelah itu Teporambe mendapat gelar Sangia Nilulo ( Dewa atau Raja yang menari lulo ).

5.jpg

Acara dilanjutkan dengan pembacaan laporan ketua panitia oleh Suharman Samudra, S.H yang merupakan seorang pejabat kesekretariatan di Pengadilan Agama Kolaka, dilanjutkan Sambutan Gubernur Sultra yang diwakili Sekretaris Prov. Sultra, Sambutan Bokeo Mekongga, dan Sambutan Bupati Kolaka. Pada kesempatan ini Bupati Kolaka Ahmad Safei menyampaikan bahwa organisasi Tamalaki Wonua Mekongga ini adalah salah satu organisasi adat yang ada di kabupaten kolaka yang mesti di jaga dan di hormati ke beradaannya. “organisasi tamalaki wonua mekongga ini aset bagi kabupaten kolaka, saya harap semoga dengan ini organisasi tamalaki wonua mekongga dapat bersinergi bersama pemerintah daerah kabupaten kolaka dalam pembangunan kota kolaka yang kita cintai ini dan semoga prosesi Mosehe Wonua ini dapat kita laksanakan setiap tahunnya” ujar Safei.

1.jpg

 

Sebagai informasi, Wakil Ketua PTA Sultra Dr. H. Mame Sadafal, M.H ini merupakan putera daerah Kabupaten Kolaka yang telah lama berkarir di luar pulau Sulawesi sebagai seorang Hakim Pengadilan Agama. Ditemui di sela acara beliau mengatakan rasa bahagia dapat mengikuti prosesi adat tersebut, “ Alhamdulillah, saya sangat senang bisa menghadiri prosesi adat tersebut, karena di momen ini kita bisa bertemu rumpun keluarga lainnya yang sudah lama sekali tidak berjumpa” ujar  Bapak yang memulai karir CPNS di Atambua ini.6.jpg

 

Acara pun berlanjut dengan prosesi Adat Mosehe Wonua atau Pensucian Negeri, prosesi adat mosehe memiliki dua fungsi utama yakni fungsi penyelesaian konflik (konflik yang terutama disebabkan oleh pombetudaria atau sumpah) dan fungsi pensucian seperti mensucikan negeri yang dikenal dengan mosehe wonua jika suatu negeri ditimpa berbagai masalah seperti gagal panen, wabah penyakit, atau kemarau yang berkepanjangan. Harapan dan substansi dari Mosehe ini adalah semoga Kabupaten Kolaka selalu terhindar dari bala bencana, wabah penyakit, dan segala sesuatu yang buruk.

8.jpg

Di Penghujung acara ditutup dengan acara makan bersama di panggung yang telah disediakan oleh pihak panitia pelaksana, dan dihibur dengan tarian Mesosambakai dari sanggar tari Ikkesma, dan atraksi budaya dari para Tamalaki Wonua Mekongga.

Setelah selesai menghadiri acara, kemudian pukul 13.30 WITA Wakil Ketua PTA Sultra menuju kantor Pengadilan Agama Kolaka untuk melakukan pembinaan. ( man_samudra )

 

Add comment


Security code
Refresh